( 05-December-2017 ) Wakil Presiden Jusuf Kalla Resmikan Sail Sabang 2017 | ( 29-November-2017 ) 122 Daerah Menerima Anugrah Swasti Saba | ( 23-November-2017 ) Ditjen Bina Pembangunan Daerah Sosialisasikan Enam Kegiatan Strategis | ( 13-November-2017 ) Kabar dari Garis Terdepan Indonesia | ( 09-November-2017 ) Pemerintah dan Masyarakat Perlu Berkolaborasi dalam Mengelola SDEW | ( 07-November-2017 ) Indonesia Menuju Ekonomi Inklusif |


JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri acara pencanangan aksi nasional pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat yang dilasanakan pada Selasa, (3/10/2017) di Lapangan Utama Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

Pada sambutannya, Presiden Jokowi menyoroti kasus peredaran tablet berbahaya PCC yang telah menelan korban khususnya kalangan anak-anak muda di Kendari, Sulawesi Tenggara. “Jatuhnya korban terutama di kalangan anak-anak muda karena mengkonsumsi tablet PCC, mengkonsumsi Pil Jin, harusnya membuka mata kita semuanya bahwa masalah penyalahgunaan obat, masalah obat ilegal, masalah obat terlarang, tidak bisa kita anggap enteng, tidak bisa kita anggap angin lalu. Ini mungkin seperti fenomena gunung es. Kasus PCC, Pil Jin, mungkin adalah puncak gunung es yang hanya nampak di permukaan, tapi di bawahnya tersimpan potensi masalah penyalahgunaan obat terlarang cukup besar, yang perlu mendapatkan perhatian kita semuanya,” jelas Presiden Jokowi.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sangat berperan penting untuk melindungi warga Indonesia dari penyalahgunaan obat terlarang. “Saya mengingatkan fungsi pengawasan ini bukan sekadar masalah administrasi, bukan masalah semata-mata prosedur teknis, apalagi urusan bisnis. Tidak. Tapi ini adalah urusan kehadiran negara, urusan kehadiran pemerintah dalam melindungi rakyatnya, urusan menyelamatkan generasi muda yang akan menjadi penerus masa depan bangsa kita, Indonesia,” tegas Presiden.

Menurut BPOM, obat ilegal sering ditemukan di pasaran, namun tidak memiliki izin edar termasuk juga obat palsu. Jenis-jenis obat yang sering dipalsukan untuk penyalahgunaan di antaranya narkotika, prekursor, psikotropika, dan obat-obat tertentu yang pada penggunaan di atas dosis terapi dapat menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, terdiri atas obat-obat yang mengandung tramadol, triheksifenidil, klorpromazin, amitriptilin, dan haloperidol.

Untuk mencegah beredar obat ilegal dan penyalahgunaan obat, BPOM saat ini menggalakkan aksi nasional pemberantasan penyalahgunaan obat yang bekerjasama dengan beberapa instansi terkait seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kejaksaan Agung, Badan Narkotika Nasional, Kepolisian, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyatakan bahwa Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat ini digagas dengan tujuan utama memberantas obat ilegal dan penyalahgunaan obat dari bumi Indonesia sampai ke akarnya. “Kasus penyalahgunaan obat yang masih terjadi akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Terlebih hingga menyebabkan jatuh korban jiwa dari generasi muda. Hal ini harus menjadi perhatian dan tanggung jawab kita bersama baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, untuk memberantasnya sampai tuntas”, tegas Penny K. Lukito.

Melalui Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, Badan POM RI mengajak seluruh lapisan masyarakat agar memberikan dukungan dan komitmennya dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan obat di Indonesia. Indikator keberhasilan dari Aksi Nasional ini adalah tidak ada lagi peredaran secara ilegal dan penyalahgunaan obat-obat tertentu di Indonesia. Hal ini tentu tidak akan bisa dicapai tanpa dukungan dari semua pihak.[Mahfud Achyar]

Sumber: Siaran Pers Sekretariat Kabinet Republik Indonesia dan Siaran Pers Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.

 

about author

Link Terkait